Video Kees van Der Spek yang menangkap basah dua orang polisi Bali saat menawarkan uang damai sejumlah Rp. 200.000 sebagai ganti agar tidak ditilang dan disidangkan di pengadilan membuat sebagian besar masyarakat Indonesia merasa prihatin. Ya, bagaimana kita bisa memperlakukan “tamu negara” yang telah dengan susah payah datang dengan biaya sendiri ke “rumah kita” dan kemudian kita merampoknya? Video yang diunggah di youtube dan kemudian menyebar luas itupun memancing banyak diskusi dan kecaman dari berbagai pihak. Polisi sebagai institusi penegak hukum kembali mendapat cercaan karena ulah segelintir oknumnya.
Kasus Van der Spek ini sebenarnya bukan kasus luar biasa. Turis Belanda yang melakukan pelanggaran lalu lintas karena tidak mengenakan helm dan memilih tawaran dari polisi yang menangkapnya ini menjadi seperti sebuah kasus besar karena media baik lokal dan internasional berhasil memblowupnya sehingga gaungnyapun meluas. Padahal kalau dilihat jumlah uang yang dikorupsi hanya Rp. 200.000, jauh dibandingkan dengan kasus korupsi Hambalang atau Bank Century. Tapi memang begitulah esensi dari korupsi, bukan pada jumlah uangnya, tapi lebih pada perbuatan korupsi itu sendiri. Dan tak bisa dipungkiri masalah momen waktu dan tempat memiliki cukup peran untuk ditempatkan sebagai headline sebuah surat kabar.
Poin penting dari kejadian ini tentu bisa kita ambil dan jadikan sebagai pelajaran berharga. Korupsi yang merupakan salah satu penyakit kronis di Indonesia ini harus segera dicarikan obatnya. Kalau tidak, tentu kita akan dirugikan dengan pemberitaan yang membuat kita seolah – olah menjadi negara yang sangat korup. Dan satu lagi, peristiwa memalukan yang terjadi pulau wisata terbaik Indonesia sungguh jangan sampai terulang untuk kedua kalinya. Paling tidak kalaupun terpaksa sekali melakukan pungli terhadap turis yang seharusnya kita hormati tersebut, jangan sampai tertangkap kamera.
Semoga Kepolisian Daerah Bali yang saat ini tengah memburu keberadaan turis Belanda Kees van Der Spek berhasil menemukan turis Belanda yang telah berjasa karena mengingatkan kita ini, dan karena ternyata banyak pihak yang ingin memberikan penghargaan padanya. Meski sesuai aturan hukum di Indonesia semua tindak pidana korupsi, tindak korupsi penyuapan atau pungli baik pelaku maupun penerima sama – sama bisa dijatuhi hukuman. Tapi seyognyanya “jasa” Kees van Der Spek menjadi bahan pertimbangan kalau ternyata nanti terbukti bersalah.
Tapi pokok permasalahan dari video ini adalah tindakan tak terpuji polisi pelaku korupsi dan ini yang perlu segera diselesaikan. Meski kasus suap yang terjadi tidak bernilai milyaran, tapi efek dari kasus ini sungguh sangat berarti terutama bagi wisata di Bali. Dunia pariwisata Indonesia perlu untuk terus berbenah diri.
No comments:
Post a Comment